Teknologi membuat banyak layanan keuangan dapat diakses langsung melalui ponsel. Mulai dari pembayaran hingga pembiayaan, proses yang sebelumnya membutuhkan kunjungan ke kantor kini dapat dilakukan secara digital.
Perkembangan tersebut juga melahirkan fintech syariah, yaitu layanan teknologi finansial yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah.
Konsepnya bukan sekadar mengganti istilah “bunga” dengan istilah lain. Produk dan transaksinya perlu memiliki struktur yang sesuai dengan prinsip syariah, termasuk penggunaan akad yang jelas serta menghindari unsur yang dilarang.
Lantas, apa itu fintech syariah, bagaimana cara kerjanya, dan apa yang membedakannya dari fintech konvensional?
Apa itu fintech syariah?
Fintech syariah adalah layanan keuangan berbasis teknologi yang kegiatan dan produknya dirancang sesuai dengan prinsip syariah.
Dalam praktiknya, teknologi tetap menjadi sarana utama. Pengguna dapat melakukan registrasi, mengunggah dokumen, mengajukan pembiayaan, memantau transaksi, dan melakukan pembayaran melalui platform digital.
Perbedaannya terletak pada mekanisme transaksi dan akad yang digunakan.
Dalam sistem syariah, hubungan antara pihak-pihak yang bertransaksi harus memiliki dasar yang jelas. Hak, kewajiban, objek transaksi, harga atau imbalan, serta ketentuan lainnya perlu dijelaskan sesuai akad yang digunakan.
Bagaimana sistem fintech syariah mengikuti prinsip Islam?
Untuk memahami cara kerja fintech syariah, penting untuk mengetahui beberapa prinsip dasar dalam transaksi keuangan syariah.
Secara umum, sistem dirancang untuk menghindari unsur seperti riba, gharar yang berlebihan, dan maysir, serta memastikan kegiatan yang dibiayai tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
Menghindari riba
Riba merupakan salah satu unsur yang dilarang dalam transaksi syariah.
Karena itu, fintech syariah tidak seharusnya menggunakan mekanisme bunga sebagai dasar keuntungan dari pembiayaan.
Sebagai gantinya, pendapatan dapat diperoleh melalui mekanisme yang sesuai dengan akad, misalnya margin jual beli, ujrah atau biaya jasa, serta bagi hasil, tergantung jenis transaksi.
Ini berarti cara memperoleh keuntungan harus sesuai dengan struktur akad yang digunakan sejak awal.
Menghindari gharar yang berlebihan
Gharar berkaitan dengan ketidakjelasan atau ketidakpastian dalam transaksi.
Dalam layanan fintech syariah, akad perlu memberikan informasi yang jelas mengenai hal-hal penting seperti:
- pihak yang melakukan transaksi;
- objek transaksi;
- nilai pembiayaan;
- harga atau imbalan;
- jangka waktu;
- hak dan kewajiban;
- mekanisme pembayaran.
Transparansi menjadi penting agar pengguna memahami apa yang disepakati sebelum transaksi dilakukan.
Menghindari maysir
Maysir berkaitan dengan perjudian atau transaksi spekulatif yang dilarang dalam prinsip syariah.
Karena itu, struktur produk fintech syariah seharusnya tidak dibangun berdasarkan mekanisme perjudian atau spekulasi yang bertentangan dengan ketentuan syariah.
Memperhatikan kegiatan yang dibiayai
Prinsip syariah juga memperhatikan penggunaan dana atau objek transaksi.
Pembiayaan tidak seharusnya diarahkan pada kegiatan atau usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah.
Dengan demikian, penilaian tidak hanya dilakukan terhadap kemampuan pengguna untuk memenuhi kewajiban, tetapi juga dapat mencakup tujuan dan jenis kegiatan yang mendapatkan pembiayaan.
Apa itu akad dalam fintech syariah?
Akad merupakan bagian penting dalam transaksi syariah.
Secara sederhana, akad adalah kesepakatan yang mengatur hubungan, hak, dan kewajiban para pihak dalam suatu transaksi.
Jenis akad dapat berbeda sesuai produk yang ditawarkan. Karena itu, dua layanan yang sama-sama disebut fintech syariah belum tentu menggunakan mekanisme yang identik.
Beberapa akad yang dapat ditemukan dalam layanan keuangan syariah antara lain:
Murabahah
Murabahah adalah akad jual beli dengan harga perolehan dan margin keuntungan yang diketahui.
Sebagai ilustrasi sederhana, pengguna membutuhkan barang tertentu. Dalam struktur murabahah, barang tersebut menjadi bagian dari transaksi jual beli, kemudian dijual kepada pengguna dengan harga yang mencakup margin yang telah disepakati.
Margin tersebut berbeda konsepnya dari bunga pinjaman karena berasal dari akad jual beli yang memiliki objek transaksi.
Mudharabah
Mudharabah merupakan akad kerja sama antara pemilik modal dan pihak yang mengelola usaha.
Keuntungan dibagi berdasarkan nisbah atau proporsi yang telah disepakati, sedangkan ketentuan mengenai kerugian mengikuti prinsip akad yang berlaku.
Akad seperti ini dapat digunakan dalam skema pendanaan atau investasi syariah tertentu.
Musyarakah
Dalam musyarakah, para pihak berkontribusi dalam suatu kerja sama atau usaha.
Keuntungan dibagikan berdasarkan kesepakatan, sementara mekanisme penanggungan kerugian mengikuti ketentuan akad dan porsi kontribusi yang berlaku.
Ijarah
Ijarah pada dasarnya merupakan akad pemanfaatan barang atau jasa dengan imbalan tertentu.
Imbalan atas manfaat atau jasa tersebut dapat disebut ujrah.
Wakalah
Wakalah merupakan akad ketika seseorang atau suatu pihak memberikan kuasa kepada pihak lain untuk melakukan tindakan tertentu yang dapat diwakilkan.
Dalam ekosistem fintech, akad ini dapat digunakan ketika platform bertindak sebagai wakil untuk menjalankan fungsi tertentu sesuai kesepakatan.
Qardh
Qardh pada dasarnya merupakan pinjaman yang wajib dikembalikan sesuai jumlah yang diterima berdasarkan ketentuan syariah.
Penerapannya harus dibedakan dari pinjaman berbunga. Jika terdapat biaya, mekanismenya harus memiliki dasar yang sesuai dan bukan menjadi bunga atas uang yang dipinjamkan.
Contoh sederhana cara kerja fintech syariah
Bayangkan seseorang membutuhkan pembiayaan untuk membeli peralatan usaha.
Pada layanan pinjaman konvensional, struktur transaksi dapat berupa pemberian sejumlah uang yang kemudian dikembalikan bersama bunga sesuai ketentuan kredit.
Fintech syariah dapat menggunakan struktur berbeda.
Jika menggunakan akad murabahah, misalnya, transaksi didasarkan pada jual beli barang dengan margin yang disepakati, bukan pinjaman uang dengan bunga.
Jika menggunakan skema kerja sama usaha, akad seperti mudharabah atau musyarakah dapat menjadi relevan, tergantung struktur produk.
Inilah sebabnya memahami nama akad sangat penting. Label “syariah” saja belum cukup untuk menjelaskan bagaimana sebuah produk bekerja.
Apa perbedaan fintech syariah dan fintech konvensional?
Keduanya sama-sama menggunakan teknologi untuk menyediakan layanan finansial. Perbedaan utamanya terdapat pada prinsip dan struktur transaksi.
| Fintech Syariah | Fintech Konvensional |
| Mengikuti prinsip syariah | Mengikuti mekanisme keuangan konvensional |
| Menghindari riba | Produk tertentu dapat menggunakan bunga |
| Menggunakan akad syariah | Menggunakan kontrak keuangan konvensional |
| Menghindari gharar berlebihan dan maysir | Tidak menggunakan prinsip syariah sebagai dasar produk |
| Memperhatikan kesesuaian objek atau kegiatan dengan prinsip syariah | Tidak memiliki persyaratan kesesuaian syariah |
| Dapat menggunakan margin, ujrah, atau bagi hasil sesuai akad | Pendapatan dapat berasal dari bunga dan biaya sesuai produk |
Namun, syariah tidak berarti otomatis gratis.
Layanan fintech syariah tetap dapat memiliki margin, ujrah, biaya administrasi, atau komponen biaya lainnya selama mekanisme tersebut sesuai dengan akad dan ketentuan yang berlaku.
Apakah fintech syariah sama dengan pinjaman online syariah?
Tidak selalu.
Fintech merupakan istilah luas yang mencakup berbagai penggunaan teknologi dalam sektor keuangan. Dengan demikian, fintech syariah tidak terbatas pada pembiayaan online.
Ekosistemnya dapat mencakup berbagai layanan, tergantung model bisnis dan perizinan masing-masing perusahaan.
Karena itu, istilah fintech syariah dan pinjaman online syariah sebaiknya tidak digunakan sebagai sinonim dalam semua situasi.
Sebelum menggunakan suatu platform, pahami terlebih dahulu jenis layanan yang sebenarnya diberikan.
Apakah fintech syariah benar-benar tanpa bunga?
Prinsip dasarnya adalah tidak menggunakan riba atau mekanisme bunga yang bertentangan dengan prinsip syariah.
Namun, hal tersebut tidak berarti pengguna selalu hanya mengembalikan nominal dana yang diterima tanpa biaya apa pun.
Tergantung produknya, mungkin terdapat:
- margin keuntungan;
- ujrah;
- biaya administrasi;
- pembagian hasil;
- komponen lain yang sesuai dengan akad.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya “apakah ada bunga?”, tetapi juga:
Akad apa yang digunakan, dari mana perusahaan memperoleh keuntungan, dan berapa total kewajiban pengguna?
Informasi tersebut perlu dipahami sebelum menyetujui transaksi.
Siapa yang memastikan layanan fintech sesuai prinsip syariah?
Kesesuaian syariah membutuhkan mekanisme pengawasan, bukan hanya penggunaan istilah Arab atau pencantuman kata “syariah” pada nama produk.
Dalam ekosistem keuangan syariah Indonesia, fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) menjadi salah satu rujukan penting terkait prinsip dan akad dalam kegiatan keuangan syariah.
Pada lembaga keuangan syariah, fungsi pengawasan syariah juga memiliki peran untuk memastikan kegiatan dan produk mengikuti ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, aspek legalitas dan kegiatan usaha tetap perlu mengikuti regulasi dari otoritas yang berwenang, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) apabila layanan tersebut berada dalam lingkup pengawasannya.
Apakah semua aplikasi yang memakai label “syariah” pasti aman?
Tidak.
Kata “syariah” bukan jaminan bahwa sebuah platform otomatis legal, aman, atau sesuai untuk kondisi finansial pengguna.
Sebelum menggunakan layanan, lakukan beberapa pemeriksaan.
Periksa legalitas platform
Cari tahu siapa perusahaan yang mengoperasikan aplikasi dan apakah kegiatan usahanya memiliki izin atau status yang diwajibkan oleh regulator terkait.
Gunakan sumber resmi untuk melakukan pengecekan.
Pelajari akad
Platform seharusnya menjelaskan akad yang menjadi dasar transaksi.
Jika tidak memahami istilah yang digunakan, jangan terburu-buru menyetujui kontrak.
Periksa seluruh biaya
Jangan hanya melihat nominal pembiayaan atau cicilan.
Periksa total pembayaran, margin, ujrah, biaya administrasi, denda atau ketentuan terkait keterlambatan, serta biaya lainnya jika ada.
Baca kebijakan privasi
Aplikasi finansial dapat mengelola data yang sensitif.
Periksa jenis data yang diminta, tujuan penggunaannya, serta izin aplikasi sebelum memberikan akses.
Jangan memberikan OTP atau PIN
Pihak yang mengaku berasal dari fintech tidak seharusnya meminta pengguna memberikan PIN, password, atau kode OTP untuk mengambil alih akun.
Informasi tersebut harus selalu dirahasiakan.
Apa keuntungan menggunakan fintech syariah?
Salah satu daya tarik utama fintech syariah adalah tersedianya alternatif layanan finansial digital yang dirancang berdasarkan prinsip keuangan syariah.
Selain itu, beberapa keunggulan yang dapat ditemukan meliputi:
- proses berbasis digital;
- akses layanan melalui smartphone;
- penggunaan akad yang dijelaskan sejak awal;
- pilihan produk keuangan berbasis syariah;
- transaksi yang menghindari unsur yang dilarang;
- alternatif pembiayaan untuk kebutuhan pribadi atau usaha, tergantung layanan.
Namun, manfaat sebenarnya akan berbeda berdasarkan produk dan perusahaan yang dipilih.
Apa risiko menggunakan fintech syariah?
Fintech syariah tetap merupakan layanan keuangan sehingga memiliki risiko.
Label syariah tidak menghilangkan risiko seperti:
- kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran;
- biaya yang tidak dipahami pengguna;
- penipuan yang mengatasnamakan perusahaan resmi;
- pencurian data;
- penggunaan platform ilegal;
- mengambil pembiayaan melebihi kemampuan finansial;
- risiko usaha pada produk pendanaan atau investasi.
Karena itu, prinsip pertama sebelum menggunakan pembiayaan tetap sama: pastikan kewajibannya sesuai kemampuan membayar.
Bagaimana memilih fintech syariah?
Jangan memilih platform hanya berdasarkan kecepatan pencairan atau besarnya pembiayaan yang ditawarkan.
Sebelum menggunakan layanan, pertimbangkan beberapa hal berikut:
- Periksa legalitas perusahaan melalui sumber resmi.
- Ketahui akad yang digunakan.
- Baca kontrak sebelum menyetujuinya.
- Hitung total kewajiban sampai selesai.
- Periksa seluruh margin, ujrah, dan biaya lainnya.
- Pastikan tujuan pembiayaan memang diperlukan.
- Bandingkan dengan alternatif lain.
- Periksa kebijakan perlindungan data.
- Pastikan cicilan sesuai dengan anggaran bulanan.
Jika penjelasan mengenai biaya atau akad terasa tidak jelas, cari informasi tambahan sebelum melanjutkan.
Fintech syariah tetap membutuhkan keputusan keuangan yang bijak
Fintech syariah menghadirkan teknologi ke dalam layanan keuangan yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Sistemnya dapat menggunakan berbagai akad, seperti murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah, wakalah, dan qardh, sesuai dengan karakteristik transaksi.
Hal yang membedakannya dari fintech konvensional bukan sekadar nama produk, tetapi struktur transaksi, sumber keuntungan, akad, dan prinsip yang menjadi dasarnya.
Namun, memilih produk berlabel syariah tetap membutuhkan kehati-hatian. Legalitas platform, isi akad, total biaya, keamanan data, dan kemampuan membayar perlu diperiksa sebelum mengambil keputusan.
Dengan memahami cara kerjanya, pengguna dapat menilai fintech syariah bukan hanya berdasarkan label, tetapi berdasarkan bagaimana transaksi tersebut benar-benar dijalankan dan apakah produknya sesuai dengan kebutuhan finansial.
